Keresahan - Prolog dan Bagian 1

Dokumen pribadi

Prolog

   Pada label tulisan ini aku hanya akan mengungkapkan beberapa keresahan yang mungkin terdengar fana di telinga kalian, atau mungkin tepatnya di mata kalian, tapi nyata adanya.

   Di sini kita tidak akan lama, mungkin hanya beberapa masa saja, menuju ajal yang ada di depan mata. Hal itu tidak menjamin sisa hidup kita berjalan tanpa masalah, apalagi keresahan semata.

   Buktinya, perang masih berjalan begitu saja, aku tidak peduli tentang apa kepercayaan orang, tidak percaya surga, neraka, hari pembalasan, atau bahkan Tuhan sekalipun. Tapi aku tahu kalau semua orang mengakui akan datangnya Sang Ajal. Arkian kenapa ketidakadilan masih saja dilakukan? agar senang dan puas selama masih ada nyawa? apa dengan itu kalian bisa senang? aku rasa tidak. 

   Tidak. Aku sama sekali tidak benci dengan kalian, aku hanya mempertanyakannya, itu saja. Karena aku, selalu resah melihatnya. Memang terkesan sangat random aku berpikir seperti ini. Tapi kepala kalian sudah pas dengan otak, mungkin? sampai-sampai kalian tidak bisa menyadarinya. Biar aku jelaskan satu per satu.


###

Bagian satu

   Mentari sudah menenggelamkan wajahnya di balik horizon hari itu. Lantunan azan terdengar kala itu, tapi di tengah kota tentu saja pendengaran tidak akan sejernih itu. Suara lalu-lalang mesin kendaraan masih dapat terdengar menyarukan suara lainnya.
   
PRIIT!

  Suara tersebut menusuk jelas, memekakkan telingaku. Aku langsung menengok ke asal suara lantang tersebut, 
   "Pak, sebelah sini dulu, dong!" Ujar seorang pengendara sepeda motor dengan nada sedikit tinggi dan muka lelah, sepertinya ia baru saja kerja lembur atau bahkan dimarahi bosnya di kantor.
Seletah melirik tajam ke pengendara tersebut, tangan seseorang yang dipanggil terangkat ke atas sambil meniupkan kembali peluit kuningnya.
 
PRIIT!

   "Nuhun, pak!" Pengendara motor tersebut sedikit berteriak sambil berlalu pergi.

  Peluit yang sedari tadi menempel pada bibir pria paruh baya itu terlepas lalu ia mengguratkan sedikit senyum,
   "Muhun, jang!"

  Aku tersentak, situasi dapat berputar seratus-delapan-puluh derajat dengan semudah nuhun. Semudah itu kawan, membuat seseorang senang, semudah itu kawan, toleransi pada setiap insan. Tidak ada yang berhak untuk bersedih terlalu lama, tanamkanlah kewajiban untuk membahagiakan, mudah saja. Ungkapkan segala syukurmu karena terbantu, apapun bentuknya,
   "Nuhun, kang!"
   "Thank you, sir!"
   "Matur nuwun, mas!"
   "Merci, monsieur!"

   Atau bahkan hanya melambaikan tangan. Karena berterimakasih itu tentang rasa, bukan bahasa. Hal sekecil itu bahkan bisa mengubah dunia, kawan. Biasakan tersenyum penuh rasa walau hanya tergurat tipis daripada tertawa kosong tanpa arti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hari ini begini